EPCI : Solusi Satu Atap Dibalik Megaproyek Dunia


EPCI : SOLUSI SATU ATAP DIBALIK MEGAPROYEK DUNIA
Makassar, 02 Februari 2025
Dalam dunia industri energi, minyak dan gas, serta konstruksi berat, istilah EPCI bukanlah hal yang asing. Namun, bagi mereka yang baru terjun ke dunia manajemen proyek, memahami kedalaman dari akronim ini sangatlah krusial. EPCI bukan sekadar metode kerja; ini adalah model tanggung jawab penuh yang menjamin sebuah fasilitas dapat berdiri tegak dan beroperasi di lokasi yang paling menantang sekalipun.
EPCI adalah singkatan dari Engineering, Procurement, Construction, and Installation. Ini adalah jenis kontrak konstruksi yang sangat kompleks di mana kontraktor utama (sering disebut kontraktor EPCI) bertanggung jawab untuk menyediakan layanan dari awal desain hingga fasilitas terpasang di lokasi akhir. Mari kita bedah setiap fasenya berdasarkan standar manajemen proyek internasional :
Engineering (Rekayasa Teknik).
Fase ini adalah otak dari seluruh proyek. Para insinyur akan menyusun desain detail, mulai dari skema mekanikal, elektrikal, hingga perhitungan struktural. Fokus utamanya adalah menciptakan desain yang efisien secara biaya namun tetap memenuhi standar keselamatan yang ketat.
Procurement (Pengadaan).
Setelah desain disetujui, kontraktor mulai melakukan pengadaan material dan peralatan. Dalam proyek EPCI, pengadaan sering kali melibatkan logistik global—seperti memesan baja khusus dari satu negara dan mesin turbin dari negara lain—sambil memastikan semuanya tiba sesuai jadwal.
Construction (Konstruksi).
Fase konstruksi adalah tahap di mana desain mulai mewujud menjadi fisik. Biasanya, komponen-komponen besar dibangun atau difabrikasi di sebuah galangan (yard). Keunggulan di fase ini adalah kontrol kualitas yang terpusat sebelum unit dikirim ke lokasi asli.
Installation (Instalasi).
Inilah poin pembeda utama EPCI dibandingkan kontrak EPC biasa. Tahap instalasi mencakup pengangkutan struktur raksasa ke lokasi operasional (misalnya ke tengah laut atau daerah terpencil) dan melakukan pemasangan serta integrasi akhir hingga sistem siap untuk dilakukan commissioning.
Banyak perusahaan besar (seperti perusahaan minyak nasional atau multinasional) memilih model ini karena beberapa alasan fundamental :
Tanggung Jawab Tunggal (Single Point of Responsibility) : Pemilik proyek tidak perlu pusing mengoordinasikan banyak vendor. Jika ada masalah teknis, hanya ada satu pihak yang dimintai pertanggungjawaban;
Mitigasi Risiko : Kontraktor memikul sebagian besar risiko teknis dan operasional selama masa konstruksi dan pemasangan; dan
Efisiensi Waktu : Karena desain, pengadaan, dan konstruksi dikelola oleh satu atap, tumpang tindih jadwal dapat diminimalisir melalui manajemen proyek yang terintegrasi.
Banyak yang bertanya, "Apa bedanya dengan EPC biasa?" Jawabannya terletak pada transportasi dan pemasangan di lokasi. Pada kontrak EPC, tanggung jawab kontraktor sering kali berakhir saat barang selesai dibangun di pabrik atau lokasi proyek darat. Namun, pada EPCI, kontraktor wajib memastikan unit tersebut benar-benar terpasang dan tersambung dengan infrastruktur lain di lokasi akhir, yang sering kali melibatkan tantangan logistik yang ekstrem seperti penggunaan kapal derek raksasa atau pengerjaan di bawah laut.
EPCI adalah solusi komprehensif untuk proyek dengan tingkat kesulitan tinggi. Dengan menyatukan rekayasa, pengadaan, konstruksi, dan instalasi dalam satu kendali, keberhasilan proyek menjadi lebih terukur dan risiko kegagalan integrasi dapat ditekan serendah mungkin.
Penulis : Angelia Khairunnisa

